Bagaimana Menyiapkan Sumberdaya Manusia Menghadapi Industri 4.0, ada di Selisik 2018

Era digital yang masuk di pertengahan tahun 2000-an memang luar biasa, membuat dunia berubah cepat, Yang semula komputer jaman saya dulu...



Era digital yang masuk di pertengahan tahun 2000-an memang luar biasa, membuat dunia berubah cepat, Yang semula komputer jaman saya dulu masih pakai disket, sekarang kirim data, cukup lewat whaatsapp. Masih kurang canggih, jaman dulu bisnis harus punya uang, punya toko, punya pabrik, sekarang hanya dengan akun facebook atau instagram, dengan modal smartphone dan kuota telpon sudah punya usaha. Begitu pula, belajar kalau di Indonesia kita masih kuliah tatap muka, maka di beberapa tempat sudah melakukan kelas online. Tidak perlu bayar mahal, cukup diam di rumah, mendengarkan dosen via webinar lalu di akhir semester ikut ujian, dan bisa dapat gelar pula. Oh, dunia...

Bagaimana dengan perkembangan industri di masa depan? bagaimana kesiapan sumberdaya manusia Indonesia yang akan mencapai angka tertinggi di tahun 2030? anak saya nanti bekerja dimana? beberapa pertanyaan yang terus bermunculan di benak banyak orang. Ya, dan jawabannya adalah kita semua harus melek digital. Jawaban singkat yang saya tangkap dari dua keynote speaker pada acara

Seminar Nasional telekomunikasi dan Informatika 2018 (SELISIK) yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, bekerja sama dengan APTIKOM, NERIS, bertempat di convention hall Haris Hoter Citylink Bandung, 1 September 2018


Blogger JA bersama Rektor STTB dan Rektor AMIKOM Yogyakarta


Seminar nasional yang merupakan akhir dari serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan mengumpulkan karya ilmiah dari berbagai perguruan tinggi bidang ICT serta juga lomba mahasiswa, menunjukkan bahwa potensi sumberdaya manusia di Indonesia tidak kalah. Pertanyaannya, apakah memang industri 4.0 adalah murni semua harus digital? Bagaimana dengan peran ilmu lainnya, seperti kedokteran, pertanian, ilmu sosial, bahasa dan yang lain? Pertanyaan itu juga muncul di benak saya, masa sih, semua warga dunia harus jadi ahli komputer, harus jadi ahli digital, lalu yang akan memeriksa pasien kalau sakit, yang menyiapkan makanan, yang membuat pakaian, kerajinan, membangun rumah? apakah nanti semua serba robot?
Foto Pemenang Lomba Animasi

Foto Pemenang Lomba Game

Foto Pemenang Lomba Aplikasi



Menyiapkan Sumber Daya Manusia era 4.0 Menggunakan Digital Mastery

Seminar diisi leh dua keynote speaker. Keynote speaker pertama, Priyantono Rudito, Ph.D, staf ahli Menteri Pariwisata yang mantan Direksi Telkom dan Telkomsel menyampaikan paparannya dengan judul : Menyiapkan Sumber Daya Manusia era 4.0 Menggunakan Digital Mastery

Pak Rudito di awal paparannya menyampaikan bahwa dalam memahami industri 4.0, maka kita harus memahami contex, concept dan content. Secara konteks, saat ini terjadi akselerasi digitalisasi yang menyebabkan terjadinya disrupsi dan transformasi. Sebagai bagian dari generasi X yang lahir di tahun 70-an, saya tidak digital native. Tetapi, jika ingin tetap bertahan, maka mau tidak mau harus memaksa diri untuk digital native. Tidak mudah, apalagi buat emak-emak, gaptek. Tapi ya itu dia, walau saya berharap dunia kembali seperti dulu, tetapi ternyata internet membuat semua menjadi maju berkali-kali lipat.



Conteks

Pak Rudito dalam presentasinya menjelaskan mengenai perkembangan di bidang telekomunikasi yang sangat pesat. Bagaimana yang dulunya berkomunikasi menggunakan telpon dan sms, sekarang, secara gratis sudah dapat digantikan aplikasi. Bahkan untuk mendapat makanan pun, melalui aplikasi kita dapat memesan melalui aplikasi, tanpa harus memasak.

Disruptive, meminjam istilah Prof Rhenald Kasali, tentang terjadinya kekacauan dalam bisnis. Yang hebat menjadi hancur, hanya karena layanan bisnisnya digantikan oleh layanan yang lebih murah, cepat dan dapat menjangkau banyak orang. Banyak teori bisnis dan marketing tumbang di era digital. Ini menjadi alasan, mengapa tidak dapat dianggap tidak ada.


Concept
Mengelola SDM dengan konsep baru
Menyiapkan sumberdaya manusia di era 4.0, maka perlu adanya perubahan pengelolaan SDM. Kita semua tahu, orang terkaya di dunia saat ini adalah anak muda. Dengan modal usaha nol rupiah, tapi bisa menghasilkan layanan yang menjangkau semua orang di dunia. Pak Rudito menunjukkan berapa valuasi yang dimiliki oleh facebook, gojek, apple dan google. Dari nol menjadi luarrrr biasa. Dalam konsep yang disampaikan, bahwa hal terpenting adalah membuat paradigma baru dalam pengembangan SDM. Yang harus dilakukan adalah melakukan kolaborasi antara senior dan junior. Senior memiliki berbagai keunggulan, seperti pengalaman, kebijaksanaan, kekuasan dan modal. Sedangkan junior juga memiliki keunggulan, yaitu ide kreatif yang diluar jangkauan senior apalagi harus diketahui bahwa jumlah penduduk terbesar di masa depan adalah milenial. Jadi, masih mau memaksakan model bisnis masa lalu pada anak muda?


Menyiapkan SDM dari Best practice menjadi new practice
Senior yang hidup di masa lalu akan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di masa lalu. Tetapi, anak muda, karena tidak ada di masa lalu, maka lebih bebas dalam berfikir. Google dalam menjalankan bisnisnya mengalokasikan anggaran 70 % untuk saat ini, 20 % untuk pengembangan jangka pendek, dan 10 % untuk pengembangan jangka panjang. Mau tidak mau, kita juga harus melakukan investasi jangka panjang, walaupun mungkin tidak berhasil. Tetapi ya harus dilakukan, karena kita masih akan hidup di masa depan dan bukan di masa lalu. Ah, saya jadi ingat produk-produk yang menemani hidup saya, seperti kodak, fuji dan sekarang tinggal nama.

Content
Menyiapkan 9 kuadrant spirit dan mengkolaborasi dengan digital leadership


Kembali melihat para startup unicorn, semua ternyata berawal dari alasan sederhana. Google hadir, untuk memudahkan ibu perpustakaan mencari buku, facebook hadir untuk menghubungkan teman lama alias reuni, gojek hadir untuk memudahkan orang mencari taksi. Dan woala, semua niat baik menolong orang ini menjadi bisnis gurita dan meraksasa. Dapat dikatakan bahwa bisnis hari ini tidak bisa untuk diri sendiri, tetapi harus memberikan value atau nilai untuk orang banyak. Jadi introspeksi, apakah bisnis yang dijalankan memberi manfaat untuk orang banyak, atau tujuannya masih untuk diri sendiri? Apakah tujuan bisnis kita semata mendapatkan uang, atau untuk menyelesaikan masalah di sekitar kita?'

Mengubah tujuan bisnis, bukan uang, melainkan manfaat

Menurut Pak Rudito, bisnis saat ini jika tidak menggunakan digitalisasi, maka pertumbuhannya akan rendah,bahkan bisa jadi minus, iyakah? Tetapi jika menggunakan sentuhan digital, diperkiran pertumbuhan per tahun bisa mencapai 9 %. Iya juga sih, kalau tanpa digital mana tahu orang tentang bisnis kita. Tetapi kalau dengan memanfaatkan media digital, bukan hanya tetangga yang tahu, tetapi juga nama kita dapat dikenal orang sedunia. Dengan catatan, bisnisnya unik, dan membantu menyelesaikan masalah orang lain. 

Inilah yang menjadi pertumbuhan. 

Dalam digital mastery, Pak Rudito menambahkan aspek 4R yang akan memperkuat sumberdaya manusia : yaitu Raga, Rasio, Rasa (innovativeness), dan Ruh atau karakter yang terdiri dari integritas, totalitas dan antusiasme). Hasil riset yang dilakukan Pak Rudito, ternyata, gaji, renumerasi, bonus, penghargaan hanya membuat seseorang 60 % dari titik maksimal potensi dirinya. Tetapi saat seseorang ingin mencapai tujuan tertinggi, maka dia akan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Dalam digital mastery, Pak Rudito memunculkan kuadran 9, sebagai titik tertinggi pencapaian kesuksesan. Dalam era industri 4.0, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah perubahan mindset, :
1, Membangun sense of urgenty
2. Menetapkan kpi (key performance indicator) yang mengandung unsur perubahan untuk masa depan,
3. Menciptakan quick win untuk dicapai.

Pak Rudito memberikan contoh, bahwa dengan quick win, orang akan percaya pada yang kita lakukan. Lakukan sesuai kemampuan, buktikan sesuatu yang kita mampu lakukan saat terbukti, maka orang akan percaya. Jadi ingat sebuah ungkapan, lakukan sekarang, semampumu, jangan NATO. Ya, bikin perencanaan hebat memang bagus, tetapi memberikan pembuktian itu lebih bagus.

Belum usai kekaguman saya akan materi yang disampaikan Pak Rudito, waktu pun habis, dan acara dilanjutkan dengan sesi kedua yang diisi oleh Profesor Suyanto, Rektor AMIKOM Yogyakarta.

AMIKOM, Kampus Entrepreneur Yogya Tingkat Dunia




Kenynote  speaker kedua, adalah Profersor Suyanto, Rektor Amikom Yogyakarya. Presentasi dibuka dengan film Batle of Surabaya yang ternyata dibuat oleh AMIKOM Yogya. Dengan gayanya yang santai dan kocak, tidak ada jumawanya seperti rektor perguruan tinggi, Prof Suyanto menyampaikan kiat sukses Amikom Yogya menjadi kampus entrepreneur tingkat dunia.

Kunci dari presentasi Prof Suyanto adalah bahwa di era industri 4.0, kampus harus berperan sebagai agent of economic development, dimana perguruan tinggi harus menghasilakn inovasi yang bisa meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa.

Caranya ?
1. Melakukan inovasi
2. Membuka lapangan kerja
3. Menggenarated pendapatan
4. Melakukan transfer antara kultur, pengetahuank, teknologi kepada lingkungan dan industri
5, Membuat publikasi
6. Menghasilkan paten
7. Menghasilkan lulusan yang siap kerja

Sehingga era industri 4.0, karakter SDM di Indonesia, harus memiliki kapasitas :
1. Berpendidikan, terbuka untuk inovasi
2. Mampun menghasilkan value\
3. Multi talented : profesional, scientist, entrepreneurs, artist, customers, ecosystemparticipant
4. Orientasi : ecosytem
5. Mampu berbahasa Inggris
6. Organization : inovation spaces
7. Management : Disruptors

Menarik, saat mendengar uraian Prof Suyanto tentang tugas yang diberikan pada mahasiswanya, yaitu mengupload foto di situs shutterstock. Mahasiswa dapat uang, foto terindeks google, dan jadilah portofolio. Begitupun dengan alasan mengapa beliau memilih film animasi menjadi unggulan dari AMIKOM Yogya. Berbagai prestasi yang diraih AMIKOM Yogya menjadikannya unggul di dunia, minat mahasiswa kuliah pun tinggi, karena lulusannya bukan hanya bekerja di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

Jurusan di AMIKOM Yogyakarta, Namanya "Menjual"

Ada paradigma berbeda yang memang ditampilkan Prof Suryanto, yaitu unik, tampil berbeda, dan menunjukkan hasil nyata. Meengutip istilah Pak Rudito adalah quick win. Pak Suyanto telah menciptakan klaster industri animasi yang membuat AMIKOM Yogya menjadi centre of excellent untuk animasi. Tidak tanggung-tanggung, goal yang ingin dicapai adalah centre of word class creative industry pada tahun 2030.

Prof Suyanto juga menyampaikan bahwa kampus perlu memfasilitasi generasi milenials yang digital native, supaya dapat produktif. Diantaranya adalah dengan memberikan tugas yang selain menambah pengetahuan, juga skill, dan portofolio.


Perbedaan generasi milenial dengan baby boomer

erkiraan waktu yang digunakan generasi milenial

Kesimpulan dari SELISIK 2018 adalah bahwa industri 4.0 dan era digital adalah sebuah keniscayaan, mau tidak mau, era itu harus dihadapi. Apakah kita ada di kota, di desa, usia lansia, maupun usia muda. Perubahan yang ada saat ini adalah progresif atau lompat bukan hanya eksponensial. Kita harus menghadapi jaman ini dengan pemikiran dan hati yang jernih.

Dan yang pertama harus berubah adalah manusia. Dalam teknologi, ada 4 faktor yang berpengaruh, yaitu man, money, method dan machine, dan kembali yang harus disiapkan adalah orang. Karena, tanpa kesiapan SDM dalam menghadapi perubahan yang disruptive, progressif dan serba tidak jelas, maka teknologi pun tidak akan bermanfaat.

Jadi siapkah kita menghadapi era industri 4.0?


#makingindonesia4.0
#Selisik2018
#STTBandung

COMMENTS


Maintenance by Hakimtea - Blogger Bandung
Nama

4 manfaat membeli oleh-oleh saat mudik 5 Tips Kendalikan Bobot Badan Amazing Purwakarta Batik Lasem Bebiluck Berkebun Bihun bikini blog competition Catatan Kecil Cerita Lebaran Asyik Dakwah Entrepeneurship Event blogger EventBlogger Fiksi Garih Batanak Gili Trawangan Giveaway Vivera Siregar Hotel di Sukabumi IOT Juli Ngeblog Kabupaten Balangan kelas inspirasi 5 Bandung Ketupat Kandangan kompetisi blog Kuliner live with Xl makanan halal manfaat buah Menu Sehat Mochi Sukabumi Mudik Lebaran 2016 Night at Musium Pegadaian Emas pengurusan ijin PIRT perencanaan keuangan Petualangan Cahya Rekening Online Bank SInarmas Resep Resep Churros review film Review Hotel Review Produk Roadblog 2016 Seputar Bisnis Seputar Blog Seputar Hidroponik Seputar Rhamadlan Siomay Bandung Sirsak sun Life financial tax amnesty Teknologi Pertanian Tips Liburan Tips Mudik Anti Macet Travelling Traveloka warung sayur pintar Weekend Seru Wisata Murah Saat Lebaran
false
ltr
item
Kebun Ceu Meta: Bagaimana Menyiapkan Sumberdaya Manusia Menghadapi Industri 4.0, ada di Selisik 2018
Bagaimana Menyiapkan Sumberdaya Manusia Menghadapi Industri 4.0, ada di Selisik 2018
https://3.bp.blogspot.com/-jTe53ouqIoY/W4wboVK0MKI/AAAAAAAAFDE/YnLX1oztMdYQIyEv1m3z5kZW5imuzg4TQCLcBGAs/s320/selisik5.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-jTe53ouqIoY/W4wboVK0MKI/AAAAAAAAFDE/YnLX1oztMdYQIyEv1m3z5kZW5imuzg4TQCLcBGAs/s72-c/selisik5.jpg
Kebun Ceu Meta
http://www.ceumeta.com/2018/09/bagaimana-menyiapkan-sumberdaya-manusia.html
http://www.ceumeta.com/
http://www.ceumeta.com/
http://www.ceumeta.com/2018/09/bagaimana-menyiapkan-sumberdaya-manusia.html
true
2985580080768164105
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy