Emansipasi Era Globalisasi, Tak Seindah Pemikiran RA Kartini

Kartini memandangi setumpuk tagihan di hadapannya. Mulai dari tagihan listrik, telpon, air, cicilan rumah, mobil hingga surat dari seko...




Kartini memandangi setumpuk tagihan di hadapannya. Mulai dari tagihan listrik, telpon, air, cicilan rumah, mobil hingga surat dari sekolah. Semua harus dibayar hari ini tanggal 20, satu hari menjelang peringatan hari lahir Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Berkat RA. Kartini lah, para perempuan dapat melanjutkan pendidikan, mengisi jabatan strategis, bahkan memiliki peluang kerja yang lebih luas. Seperti Kartini Era Globalisasi, seorang perempuan dengan pendidikan Magister bidang informatika di sebuah perusahaan multinasional. Bekerja menjadi tuntutan, karena kebutuhan ekonomi di perkotaan yang tinggi. Penghasilan suami tak cukup lagi untuk menopang hidup. Masalah muncul ketika penghasilan istri lebih besar dari suami.

  Potret tidak jauh berbeda terjadi di kawasan industri, sebagai contoh adalah Kabupaten Sukabumi, daerah yang pernah menjadi penyumbang buruh migran perempuan cukup besar, dan kini menjadi lirikan investor untuk membangun pabrik.  Para manager perusahaan lebih menyukai mempekerjakan karyawan perempuan terampil daripada laki-laki. Akibatnya para ibu bekerja mencari nafkah, dan para bapak, memilih menjadi tukang ojeg, antar anak dan istri.

Di sisi lain, berdasarkan data yang dikutip dari harian kompas tanggal 7-3-3017, terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Data ini diperoleh dari 358 pengadilan agama dan 233 lembaga  mitra penanganan kekerasan terhadap perempuan. Melihat data tersebut, jika masih hidup  RA Kartini akan bersedih, melihat nasib kaumnya yang sudah lepas dari belenggu kebodohan, tetapi menghadapi masalah lain yang harus diselesaikan.

Emansipasi Wanita Pemikiran RA Kartini
Dalam buku habis gelap terbitlah terang, yang ditulis oleh Ny JH Abendanon dan diterjemahkan oleh Armijn Pane, RA Kartini menyampaikan banyak gagasan mengenai pendidikan, emansipasi wanita, termasuk kemandirian dan keTuhanan.

Seperti kutipan berikut :
"Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh kami, tentu orang lain. Kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan...."(Surat RA Kartini kepada temannya Zerhandelaar, 9 Januari 1901.

"Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan sekarang ini berubah. Pada masa saya, masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya, bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya. Suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan. Keadaan utulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tidak putus-putusnya sampai kepada sayaa, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah sampai berurat berakar hidup subur serra dengan rindangnya. (Sda 25 Mei 1899]

Kartini Era Digital, Antara Tuntutan Dan Kodrat

Kembali pada kondisi saat ini, di saat kebutuhan ekonomi meningkat, peluang kerja terbatas dan sebagian lebih pro perempuan, persoalan muncul di ranah domestik. Peran ibu yang secara kodrat adalah hamil, melahirkan dan menyusui, tetap harus memenuhi tugas sebagai isteri dan ibu. Seusai kerja dengan beban yang berat, masih harus menemani anak bermain, membuat PR, menyiapkan makan, menyuapi, hingga menemani suami. Tak ayal energi terkuras lahir batin. Wanita berpendidikan tinggi menjadi mimpi Ra Kartini, tapi dampak negatif yang timbul tentunya tidak ada dalam benak RA Kartini.

Dunia terus berkembang, peran perempuan di berbagai lini makin diperlukan, tetapi sebagai individu, perempuan perlu kembali bernegosiasi dengan para pria terutama di ranah domestik. Bagi sebagian bisa jadi "emansipasi kebablasan", tapi bagi sebagian lain, menjadi situasi yang harus dihadapi dan dijalani dengan penuh kesabaran. Alih-alih menjadi tulang rusuk, maka tak sedikit perempuan bersuami yang menjadi tulang punggung. Mungkin kita perlu bercermin lagi, apakah pengorbanan yang dilakukan sebanding, atau memang harus menggunakan strategi bertahan dan sedikit mundur ke belakang. Saya yakin RA Kartini memimpikan kemerdekaan pendidikan, kemandirian kaum perempuan dengan tidak mengurangi peran dan kondrat perempuan. Para perempuan pun tentunya secara normal masih ingin menjalankan hidup dengan sewajarnya. Pemikiran Kartini tentunya tidak salah, tetapi pemikiran manusia sekarang terhadap perempuan perlulah tetap sesuai konteks dan perkembangan zaman . Karena tulang rusuk tak akan berpindah posisi menjadi tulang punggung.

#EmansipasiRAKartini #HabisGelapTerbitlahTerang #KartiniEraGlobal #KartiniEraDigital #21April1879 #TulangRusukBukanTulangPunggung

COMMENTS


Maintenance by Hakimtea
Nama

4 manfaat membeli oleh-oleh saat mudik 5 Tips Kendalikan Bobot Badan Amazing Purwakarta Batik Lasem Bebiluck Berkebun Bihun bikini blog competition Catatan Kecil Cerita Lebaran Asyik Dakwah Entrepeneurship entrepreneurship Event blogger EventBlogger Fiksi Garih Batanak Gili Trawangan Giveaway Vivera Siregar Hotel di Sukabumi IOT Juli Ngeblog Kabupaten Balangan kelas inspirasi 5 Bandung Ketupat Kandangan koperasi era modern Kuliner live with Xl makanan halal manfaat buah Menu Sehat Mochi Sukabumi Mudik Lebaran 2016 Night at Musium Pegadaian Emas pengurusan ijin PIRT perencanaan keuangan Petualangan Cahya Rekening Online Bank SInarmas Resep Resep Churros Review Hotel Review Produk Roadblog 2016 Seputar Bisnis Seputar Blog Seputar Hidroponik Siomay Bandung Sirsak sun Life financial tax amnesty Teknologi Pertanian Tips Liburan Tips Mudik Anti Macet Travelling Traveloka warung sayur pintar Weekend Seru Wisata Murah Saat Lebaran
false
ltr
item
Kebun Ceu Meta: Emansipasi Era Globalisasi, Tak Seindah Pemikiran RA Kartini
Emansipasi Era Globalisasi, Tak Seindah Pemikiran RA Kartini
https://2.bp.blogspot.com/-BbK-0wTGT6I/WPjXQ1yioUI/AAAAAAAADB0/y3B017Tv84UFUhwG_Hd00CwtEzp4JbqVwCLcB/s400/CYMERA_20170420_224306.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-BbK-0wTGT6I/WPjXQ1yioUI/AAAAAAAADB0/y3B017Tv84UFUhwG_Hd00CwtEzp4JbqVwCLcB/s72-c/CYMERA_20170420_224306.jpg
Kebun Ceu Meta
http://www.ceumeta.com/2017/04/emansipasi-era-globalisasi-tak-seindah.html
http://www.ceumeta.com/
http://www.ceumeta.com/
http://www.ceumeta.com/2017/04/emansipasi-era-globalisasi-tak-seindah.html
true
2985580080768164105
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy